Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label pasrah

Ternyata kita tak saling kenal

 i am always here when u need me Setelah sekitar 16 tahun kenal denganmu, berbagi cerita sedih dan gembira, ternyata saya baru menyadari bahwa kita tidak saling mengenal secara mendalam, hanya superfisial saja. Bukan saat ini saja saya menyadarinya namun baru sekarang saya berani untuk bercerita dan menuliskannya di sini *takut lupa hehehe Berawal saat saya dihadapkan dengan masalah prioritas: menikah atau kerja, atau keduanya. Perdebatan hebat dari hari ke hari terjadi antara kita, dan berakhir dengan "Terserah loe deh, eloe mah gak akan dengerin kata orang." Saya terdiam dan mengadu pada Allah, mohon petunjuk, dan tidak diduga kemantapan yang datang adalah sama seperti saranmu, dan akhirnya saya melakukannya. Ditengah perjalanan Allah mendatangkan sesuatu yang menjanjikan kebahagiaan akhirat, yaitu penggenapan dien yang telah saya nanti sekian lama. Namun kembali hati saya berkeras, dan tahukah bahwa lewat idemu tentang make it simple Allah berikan hidayahNya, ...

Pesimis atau pasrah?

Kalo mau gak papa, gak mau ya syukur deh    atau Kalo mau ya syukur, gak mau juga gak papa Kedua ungkapan tersebut berbeda bermakna, dan saya mengungkapkan salah satunya yang menurut mereka terbalik untuk hal ini.  Posisi saya sekarang ini tidak menguntungkan, terlalu banyak tekanan dari berbagai pihak, dari berbagai sudut pandang. Tulisan ini akan saya fokuskan pada satu dari sekian pembelajaran yang sedang saya hadapi, yaitu masalah pendamping, karena untuk masalah lain saya masih bisa melakukan sesuatu dengan tangan dan kaki saya.  Menurut saya ungkapan yang saya lontarkan kemarin adalah hasil dari perenungan di titik nol. Benar-benar pasrah, mungkin memang harus menyerah, karena tidak ada tindakan lain yang dapat saya perbuat di dunia nyata selain berdoa. Hal ini  diluar kemampuan saya, saya tidak berhak berkeinginan, saya tidak sanggup berharap lebih. Saya harus benar-benar netral dan kembali, agar masalah ini tidak melumpuhkan saya. Saya akan membiarka...

Belajar pasrah, sekalian belajar nulis kata pengantar tesis ;)

Semua tahap dalam kehidupan selalu melewati proses.  Salah satunya proses belajar  untuk pasrah. Setelah melewati minggu yang sulit, alhamdulillah saya mendapat pencerahan, jawaban dari doa-doa.  Akhirnya merasa saya bisa merasa tenang dan menyerah, tapi dengan senyum dan hati gembira. Ternyata menjadi pasrah itu butuh proses, butuh bantuan dari orang lain, butuh dukungan dari sekitar, butuh banyak bercakap dan bertukar pikiran. Saya benar-benar makhluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri. Lega rasanya saat hati tak khawatir lagi tentang hasil, saat tak dikejar oleh rasa takut akan deadline, takut akan manusia.  Terima kasih atas dukungan semua pihak,  terima kasih pada mamah dan asih, maaf ya tercueki selama 1 minggu ini terima kasih mas Budi, Teteh dan Piton atas bantuan material yang memang sedang dibutuhkan terima kasih Lina yang bersedia beradu argumentasi tentang masalah hati terima kasih pada Ali dan kakak2nya, Fatih dan kakak2nya, Ghaisan dan kaka...

Keputusan di tengah kepenatan

Memang tidak ada yang bisa mengerti diri kita selain kita sendiri dan Sang pemilik. Nah, yang paling gawatnya jika kita sendiri pun tidak mengeti apa yang jadi "mau" kita. Berarti saat ini saya dalam keadaan "gawat" mudah-mudahan tidak darurat. Saya terus terang cukup bingung dengan hal-hal yang terjadi disekitar saya. Benar-benar diluar kuasa saya. Mungkin sebagai penyadaran saya untuk kembali. Saya adalah orang yang cukup optimis walau kadang bisa jatuh kedalam lubang pesimis. Saya merasa sanggup untuk membaca situasi yang sedang terjadi disekitar saya. Untuk menanggapi stuasi tersebut biasanya saya tidak menyelesaikannya dengan rencana panjang, tapi berusaha sesingkat mungkin, ketemu masalah langsung bereskan. Sayangnya masalah yang saya hadapi sekarang ini tidak bisa dibereskan dari diri saya sendiri. Butuh kerjasama dari pihak lain yang tidak dapat saya kendalikan. Arrrgghhh......inilah yang bisa jadi sumber masalah baru. Mereka tidak sama seperti saya. M...

Aku dan Kecoa

Menjijikan…itu adalah kata pertama yang terlintas di kepalaku saat mendengar kata kecoa. Kakinya, antena panjang di kepalanya….iih bikin merinding. Kemarin siang, saat harus mengunakan kendaraan favorit ke 2  setelah starmin (dia harus melakukan tugas mulia mengantar mamah kondangan), aku menemukan kecoa hidup didalamnya. Hiiii….perjalanan masih panjang dan aku harus berada bersama kecoa itu  dalam ruangan yang kecil ini untuk waktu yang cukup lama. Duduk menjadi serba salah, gak bisa nyender, tengak tengok cari kemana sang kecoa bersembunyi, pokoknya perjalanan kemarin bikin mules deh. Bukan berarti di rumah gak ada kecoa, buanyak hehehe ….(jadi malu), tapi kan rumah agak lebih luas dibandingkan dengan ruangan di bajaj, jadi aku bebas melangkah kemana saja saat mereka berkeliaran. Tapi itulah yang terjadi dalam kehidupan, ada kalanya kita harus bersama dan berinteraksi erat dengan sesuatu yang kita tidak sukai dan tetap harus menjaga keamanan dan kenyaman dir...

Tentang kehendak-Nya

Ketika kehendakmu tak sejalan dengan kehendak-NYA Biarkan kehendak-NYA yang berjalan atas hidupmu Karena kehendak-NYA adalah kebaikan untukmu Ketika inginmu tak sesuai dengan ingin-NYA Biarkan ingin-NYA menjadi skenario terbaik bagi hidupmu Karena Dia Maha Tahu segala hal tentang dirimu Biarkan tangisan mengobati kekecewaanmu Bukan kecewa kepada Rabb mu Tangisan karena tak mampu berdiri diatas ingin-NYA Hidup harus dijalani Semenyakitkan apapun Siap atau pun tidak Karena Rabb mu tidak pernah butuh persetujuan atas kehendak-NYA ( catatan seseorang yang karena penyakit gagal ginjal telah mendahului kita ) dikutip dari: Shinta Tedjaningsih Purwadi untuk dr. Zakiudin Munasir